survey kampus
Pagi sekitar jam 8.00 ku bawa diriku melawan pagi yang sudah berpolusi. Entah siapa yang harus disalahkan tentang polusi yang kian hari kian parah. Tapi dalam diriku aku sering tanamkan sesedikit mungkin menghasilkan polusi.
Kuketuk pagar rumah Deni. Deni keluar dengan dandanan khasnya, celana gombrong bersama jaket lorengnya yang merupakan jaket warisan nenek moyang. dengan langkah pasti kami berjalan melewati pasar genjing yang masih ramai.
hampir lelah menunggu bus di pinggir jalan raya Pramuka. padahal ada shelter bus, tapi kami lebih memilih di pinggir jalan saja, hal ini bukan tanpa alasan, karena bus terkadang tidak berhenti di shelter yang telah disediakan. Jadi jangan salahkan kami jikalau kami tak menunggu bus di shelter, tapi salahkan supirnya ( bela diri nie).
Sial. Bus jurusan UKI ternyata belum juga muncul. Terpaksa kami naik kendaran ke Bypass terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan sekali lagi naik kendaraan ke arah UKI.
Bus ke Bandung Rp. 25.000 tak masalah. Di sepanjang perjalanan menuju ITB aku dan deni lebih banyak diam. Kami berbicara dari hati ke hati.
Karena sebelumnya kami tak pernah ke Bandung, jadi ya kami mengandalakan mulut untuk bertanya. Tapi bertanya bukan jalan keluar teman, karena yang ditanya tidak memberikan jawaban yang baik, hanya sekedar opini. Jadi angkutan menuju ITB masih samar di mata kami.
ya biarpun badai menghadang, tujuan kami tetap, ITB.
kita turun di padalarang, kenek bus menyarankan untuk naik angkot warna hijau, kamipun mengindahklan anjurannya. tapi ternyata, dari tempat kita turun angkot ternyata harus 2 kali naik kendaraan lagi...
kita istirahat terlebih dahulu, karena matahari kian berada di atas kepala. Singgah ke Mesjid untuk shalat Dzuhur.
sial, di Mesjid tak didapati sehelailpun kain untuk sembahyang. Mau tak mau aku memakai mukena untuk menutupi auratku. Tak masalah Untuk ITB.
setelah dua kali naik kendaraan, akhirnya kami tiba di ITB. Jalan Tamansari No. 64.
tapi ternyata kampusnya terletak sekitar 1 KM lagi dari sini. kami fikir berjalan kaki adalah pilihan yang tepat menuju kampus ITB di jalan ganesha...
di tengah jalan perut sudah meminta jatah untuk diisi ulang. Mampir ke warung padang. Habiskan apa yang bisa dimakan kalau perut masih sanggup.
kami terduduk di taman dekat mesjid salman. Ternyata ITB lebih besar dari apa yang aku fikirkan. Bangunannya masih mempertahankan bangunan lama. Hawa kampus menandakan bahwa ini adalah tempat kaum Intelektual, bukan kaum sepertiku yang selalu menghabiskan waktu untuk bermain.
tapi jiwa ini ingin merasakan nikmatnya kuliah di kampus ITB, kampus bukan sembarang kampus. Menentang dosen, beradu argumen dengan teman.
akh.....
kenapa mimpiku terlalu tinggi.....
Sabtu, 25 Juli 2009
ITB Chapter1
Diposting oleh chevymemoar di 15.25
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar